Jalan sehat dan bazaar dalam Peringatan HUT Museum Dewantara Kirti Griya ke-47 dan Ki Hadjar Dewantara ke-128 Tahun dan Perenungan May Day

Selamat malam Indonesia,

Tadi saya mengirimkan foto selamat hari buruh sedunia.
Foto diambil dari kegiatan jalan sehat tadi pagi. Dalam acara ini, Griya Jati Rasa ikut berpartisipasi mengikuti Jalan Sehat, membuka stand Bazzar dan mengakomodasi penyediaan cemilan rebusan umbi dan kacang untuk para peserta Jalan Sehat. 

Sebelum Jalan Sehat, Pemanasan dilakukan bareng-bareng sambil senam diiringi gending Jawa.
900 peserta jalan sehat menyusuri rute jalan Tamansiswa ke Taman Wijaya Brata di mana pinesepuh Tamansiswa dibaringkan. Taman Wijaya dirawat indah. Ketika kami di sana, dari jauh saya bisa lihat gunung Merapi dan gunung Merbabu. Kang Rendra Agusta menulis refleksi indah untuk instagramnya dari foto yang saya ambil. Jadi saya kirim foto sedang tertawa lebar di 1 May.

Apakah saya sedang tertawa untuk apa yang kemudian saya lihat terjadi di Jakarta?

Tentu saja saya bersedih. Bukan karena bunga-bunga yang indah dibakar karena mereka juga akan musnah.

Saya sedih karena ketulusan para buruh ditumpangi kepentingan politik. Mengapa demo buruh bisa ricuh membawa kepada kekerasan yang cepat terkontrol sebelum menjadi makin beringas tak beradab?

Jauh sebelum Labor Day dinyatakan sebagai hari perjuangan para buruh, Ki Hadjar Dewantara sudah mempersoalkan relasi buruh dan majikan yang dipelihara oleh penjajahan Belanda selama 300 tahun. Perguruan Tamansiswa dibangun berbeda dengan relasi buruh majikan karena prinsip kekeluargaan menjadi pemersatu antara guru, majelis luhur (pengurus yayasan) dan orang tua. Saya pernah cerita ketika Belanda memaksa Tamansiswa bayar pajak. Dalam relasi tanpa kelas, di dunia pendidikan tidak ada pajak.

Jadi mengapa Indonesia tidak berbangga untuk melestarikan sikap budi luhurnya ketika perayaan hari buruh dilakukan hari ini, di #MayDay seperti yang diperlihatkan oleh KHD ketika semua barang2 Tamansiswa diambil karena tidak membayar pajak. Masyarakat yang simpatik dg Tamansiswa malahan memberikan semua barang yang sudah diambil oleh penjajah.

Kepada elit politik, tolong biarkan warga biasa menjadi warga yang baik ketika menggunakan jubah agama ketika demo maupun ketika berjubah biasa, kausal yang membuatkan dekat dengan kemanusiaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *